Postingan Terbaru

Di Persimpangan Hati

Gambar
Ilustrasi | Pexels.com/Erik Mclean di persimpangan hati  aku menguatkan semua keyakinan  yang terus bermunculan ingin keluar  dan pergi dari balik kebimbangan  kini, aku harus bagaimana?  memilih pergi tuk kembali pada awal  atau mencari tantangan yang tak  pernah dilewati sebelumnya Tuhan, aku bingung!  kenapa harus seperti ini  jalan yang kau berikan di bilik-bilik  bimbang kehampaan dan air mata apakah pernah kuminta hal seperti ini?  dalam kebimbangan di pagi hari  aku malah seperti bocil yang menangis;  tak tahu apa-apa dalam segala bidang  dan melongo di segala arah yang terlihat  Tuhan, apakah aku harus menyerah dalam keadaan?  mungkin saja, pertanyaan itu terdengar retorika  bagi Kau yang mendengar dengan seksama  bagi Kau yang mendengarkan secara bijaksana  namun, aku malah merasakan getir  getir yang amat dalam, dalam perjalanan ini  Tuhan, berikan kekuatan dan kesabaran buat diri ini!  2024

Di Ujung Perjalanan

Di Ujung Perjalanan
Ilustrasi | Pexels.com/Alex Dos Santos

Di sini, aku masih saja menatap ujung perjalanan yang pernah kita lewati ini dengan cinta; dengan rasa; dengan air mata. Aku meratapi kembali tentang ujung perjalanan yang penuh kenangan ini. 

Hmm. Apakah kau masih mengingat ujung perjalanan saksi cinta kita ini? Ujung perjalanan yang membuat kita saling mengungkapkan rasa hingga menciptakan dongeng cinta yang tak selalu indah di bagian akhirnya.

Banyak orang juga yang berkata, kehilangan itu akan menjadi peristiwa yang sulit dilupakan! Aku pun benar-benar terpukul dengan perkataan semacam itu. Ya, sampai sekarang, hingga sekarang, aku pun masih saja mengingat tentang indah wajahmu; cantik tuturmu dan semua yang menempel di dalam dirimu. 

"Kenapa terus merenung gitu?" tanya salah seorang temanku yang berada di samping ini. 

"Kalau ke tempat ini, aku sering mengingat lagi Aulia," jawabku dengan nada pelan yang mungkin saja samar-samar terdengarnya.

Asep, salah seorang temanku itu malah terus bertanya, "Emang sebegitukah cinta sampai sulit untuk dilupakan?" 

Aku pun tersenyum lalu memalingkan wajah dengan harapan bahwa Asep tidak akan menanyakan lagi soal itu.

"Hmmm. Cinta memang bisa membuat orang menjadi gila," celetuk Asep begitu saja.

Aku pun berjalan ke perempatan jalan yang di mana tempat itu ialah tempat kita memadu kasih—menikmati cinta yang mulai bermekaran di halaman hati. Kemudian dalam kecerahan siang, semua hal yang menyangkut dirimu itu malah terlihat jelas di situ, entahlah! Apakah hal semacam itu bisa disebut ilusi semata? Ataukah cinta yang sudah mengubah pandangan mata? 

Aku berbicara pada hati yang mana bahwa cinta yang dulu pernah kita jalani itu ialah cinta yang terasa sempurna. Namun, hal semacam itu tetap saja menjadi duka ketika dirimu pergi untuk selamanya. Aulia, aku masih sering memanggilmu dalam balutan mimpi yang indah, kataku pelan sambil duduk di kursi yang dulu pernah kita duduki ini.

"Semua hal yang menyakitkan itu akan datang, A," kata Asep yang sudah berada di dekatku lagi. 

"Seperti itu, kah?" Aku pun mengerutkan kening tanda masih belum mengerti apa yang dikatakan oleh Asep itu.

Asep pun menjelaskan secara gamblang bahwa cinta itu membutuhkan ruang yang benar-benar kosong agar bisa diisi dengan sempurna. Bahkan, cinta pun menjadikan suatu fitrah yang dimiliki oleh setiap orang. Oleh karena itu, cinta pun tak bisa dipaksakan harus ke mana dan di mana ujungnya.

Kemudian, aku pun hanya terdiam saja ketika mendengarkan semua itu. Bahkan, jiwa ini sudah seperti burung merpati yang tidak tahu-menahu akan kandangnya. Entahlah!


***


Sewaktu pagi, aku duduk di beranda rumah sambil memikirkan dirimu yang entahlah harus sampai kapan bayanganmu itu selalu tergambar jelas di pikiran ini. Entah, sampai kapan momen-momen tentangmu itu hilang dalam pikiran ini.

Dalam momen semacam itu, aku sering menyalahkan diri sendiri karena sudah mencintaimu yang sungguh sangat berbeda. Kemudian, aku pun merasa kalah dengan dunia yang kejam ini. Bahkan, pikiran ini malah berpikir, seharusnya aku harus bercermin sebelum cinta itu tumbuh untuk dirimu. 

Kemarin di ujung perjalanan, aku malah bernostalgia lagi tentang cinta kita; tentang semuanya yang pernah kita lalui walaupun harus berakhir dengan kesedihan yang mendalam. Namun, momen semacam itu menjadikan momen yang paling sulit untuk dilupakan. Aku mencintaimu, tapi keadaan yang membuat kita harus berpisah. 

"Kita akhiri saja kisah ini, ya!" kata dirimu yang masih saja aku ingat ketika kita duduk di ujung perjalanan itu.

Sewaktu itu, aku merasa tak percaya bahwa cinta yang didamba-dambakan ini hancur berantakan. Hatiku menangis walaupun air mata tidak jatuh di depanmu. Aku tertunduk dan sulit untuk mengeluarkan satu kata pun. Aku benar-benar hancur ketika itu.

Sekarang, aku merasakan bahwa cinta benar-benar telah merusak jiwa ini! Sungguh, semua itu sangat di luar nalar. Bahkan, dalam lamunan yang dalam pun aku belum memahami terkait cinta sejati yang sebenarnya itu seperti apa, sih? Kemudian, pagi pun menjadi terasa sepi dan udara malah semakin dingin menyerang celah-celah kemeja untuk masuk ke dalam tubuh ini.

Cinta dan kehilangan yang membuatku seperti ini sehingga hidup pun sudah seperti layangan yang terombang-ambing ke sana-sini. Mungkin saja, menurut orang-orang bahwa cinta itu adalah keindahan yang terasa di dalam hati. Namun, kenapa semua itu tak terasa di dalam hati ini? Cinta yang aku rasakan malah sebaliknya!(*)


2024

Komentar

Tulisan Favorit Pembaca

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Salar de Uyuni, Cermin Raksasa yang Ada di Bolivia

Lelaki yang Patah Hati

Di Balik Jendela Kaca

SEMBUH ITU KEINGINAN