Postingan Terbaru

Di Persimpangan Hati

Gambar
Ilustrasi | Pexels.com/Erik Mclean di persimpangan hati  aku menguatkan semua keyakinan  yang terus bermunculan ingin keluar  dan pergi dari balik kebimbangan  kini, aku harus bagaimana?  memilih pergi tuk kembali pada awal  atau mencari tantangan yang tak  pernah dilewati sebelumnya Tuhan, aku bingung!  kenapa harus seperti ini  jalan yang kau berikan di bilik-bilik  bimbang kehampaan dan air mata apakah pernah kuminta hal seperti ini?  dalam kebimbangan di pagi hari  aku malah seperti bocil yang menangis;  tak tahu apa-apa dalam segala bidang  dan melongo di segala arah yang terlihat  Tuhan, apakah aku harus menyerah dalam keadaan?  mungkin saja, pertanyaan itu terdengar retorika  bagi Kau yang mendengar dengan seksama  bagi Kau yang mendengarkan secara bijaksana  namun, aku malah merasakan getir  getir yang amat dalam, dalam perjalanan ini  Tuhan, berikan kekuatan dan kesabaran buat diri ini!  2024

Lelaki yang Patah Hati


AKU tak pernah bosan memandang fotomu yang tersimpan di dalam dompet. Aku selalu mengingat ketika kita berada di pantai ini, duduk berdua melihat senja, duduk berdua sambil menyanyikan lagu "Kemesraan". Aku masih mengingat semua itu. Apakah kau juga masih mengingat kenangan itu? Aini, aku mengira kau sudah melupakan tentang kita. Tentang masa indahnya kita menjalin hubungan sampai kau jatuhkan aku ke lubang yang paling dalam, sakit. 


Di pantai ini, sekarang, aku hanya sendirian melihat ombak. Melihat burung-burung pemakan ikan. Melihat anak-anak yang bermain pasir. Melihat para lelaki yang bermain bola di pantai. Aku kesepian, Aini. Semua yang dilihat itu tak mampu menghilangkan atau menggantikan bayanganmu yang berkeliaran di dalam kepala. Aini, inikah yang dinamakan cinta meskipun gagal untuk bisa bersama. Namun, masalah hati tak akan bisa berbohong kepada pemiliknya. 


Cinta ....

Di pantai Bali 

Kenangan indah 

Yang telah terjadi


Aini, lagu itu lagu dari Sejedewe selalu aku nyanyikan untuk menemani kesepian yang melanda. Ya, memang pantai yang dulu kita singgahi bukan pantai Bali, tetapi pantai Pangandaran. Namun, lagu itu sudah pas banget menggambarkan suasana hatiku, Aini. Entahlah, kau harus tahu atau tak perlu tahu? Itu terserah kau saja yang paling penting aku sudah mencurahkannya di sini; di kertas polio ini. 


Angin pantai menerobos masuk ke celah-celah kemeja yang aku pakai. Orang-orang terlihat saling tertawa, mungkin juga ada yang berpacaran seperti kita dulu. Sekarang, aku hanya bisa memandang orang-orang itu. Bahkan, aku menjadi iri karena orang-orang itu terlihat bahagia akan cintanya. Aini, aku berdiri di sini. Apakah aku harus memotong senja agar seperti cerita yang ditulis Seno Gumira Ajidarma? Apakah aku harus seperti itu? Agar, kau bisa mengetahui betapa dahsyatnya cintaku kepadamu ini. 


Aini, sekarang, aku seperti orang goblok berjalan ke sana-sini di pantai dan tak punya arah tujuan. Aku berhenti kalau ada yang menarik untuk dilihat. Aku berhenti di depan nelayan yang sedang menurunkan ikan-ikan dari kapalnya. Aini, nasib ikan sangat kasihan. Mereka ditangkap, lalu mungkin bisa dijual juga oleh nelayan itu untuk keperluan pribadinya. Ya, memang itu perjalanan mereka, besar di laut, lalu ditangkap nelayan dan mungkin saja dijual. 


Ikan-ikan itu mulai banyak yang berteriak kepadaku. Namun, aku tak bisa apa-apa. Tolong ... tolong ..., kata ikan-ikan itu. Ya, aku juga merasakan bagaimana mereka tersiksa berada di wadah besar saling berdempetan. Andaikan ada dirimu, mungkin bisa menjadi salah satu pemberi perintah kepadaku. Kau yang suka ikan, mungkin juga akan sangat kasihan melihat ikan-ikan yang saling berdempetan. Dan mungkin juga, akan langsung menolongnya. Benar, kan, Aini? 


"Kau, kenapa berdiri di sana?!" tanya nelayan itu dengan berteriak, sedangkan matanya melotot tajam dan tubuh yang kekarnya berdiri tegap. 


"Ingin ngeliat saja," jawabku dengan nada biasa. 


"Kalau mau melihat, jangan di sana!" Nelayan itu berteriak lagi, "sana! Tuh, di sana!" tambahnya sambil menunjuk ke tempat penjualan ikan. 


Aku pun melirik apa yang nelayan itu tunjukan kepadaku. Banyak nelayan yang sedang menunggu antrian untuk menukarkan tangkapan ikannya dengan uang. Aku menunduk dan menarik napas panjang, lalu mengembuskan kembali. Aku khawatir bagaimana kalau ikan-ikan di lautan ini habis. Bagaimana mereka untuk mencari sumber kehidupan. Ya Allah, berikanlah kemudahan untuk mereka, doaku di dalam hati. 


Senja sudah tenggelam, sedangkan orang-orang pada mulai meninggalkan pantai. Aku sendiri memutuskan untuk pulang. Kuayunkan kaki menuju mobil yang terparkir di tempat parkir. Hatiku menjadi lumayan, Aini. Lumayan bisa mengeluarkan kenangan kita dulu di sini. Walaupun, hatiku tak bisa menjadi teman hatimu. Namun, setidaknya kita pernah menuliskan kenangan di pantai ini. 


Mobil Navara berwarna hitam dengan mesin diesel 4x4 langsung aku nyalakan. Kemudian, aku memutuskan untuk benar-benar pulang dari tempat yang penuh kenangan ini. Keempat roda pun berpusing-pusing di jalanan. Lagi dan lagi lagu "Cinta di Pantai Bali" menemaniku dalam perjalanan untuk pulang ke rumah. Sial! Kendaraan yang mengisi jalanan sudah seperti ular yang merayap. Sial! Perjalanan ke rumah yang biasanya bisa ditempuh waktu satu jam. Namun, berbeda dengan sekarang ini yang memerlukan waktu lebih lama. 


Banyak mobil yang berteriak-teriak, mungkin karena kesal harus berjalan dengan merayap. Dan malam pun sudah merangkak naik ke permukaan. Bulan purnama yang indah aku lihat. Apakah harus aku petik bulan itu untuk kado kepadamu, Aini? Pikiranku melayang ke mana-mana. Entahlah, rasa apa yang sedang terjadi kepadaku. Namun, kalau kata orang lain, aku ini sedang patah hati. 


Sesampainya di rumah, dadaku terasa hangat ketika melihat ada kau di ruang tamu. Aku terkejut. Seorang wanita yang sudah menyakitiku ada di ruang tamu. Kau masih terlihat cantik. Kau masih terlihat manis. Kau juga masih tak berubah sedikit pun. Aku tak tahu harus memulai pembicaraan apa terhadapmu. Aku menjadi seorang yang kaku di hadapan dirimu, Aini. 


"Aa ...!" panggilmu kepadaku. 


Aku mendekatimu, lalu duduk di kursi. 


"Apa kabar, A?" tanyamu lagi.


"Baik," jawabku berbohong. 


"A, aku ada calon, nih!"


"Calon? Calon apa?" tanyaku terheran-heran.


"Calon istri untuk, Aa." 


"Apa?" Wajahku memandang dirimu. 


"Ini calonnya!" Kau memperlihatkan foto wanita yang ada di dalam ponselmu. "Cantik, kan?" 


"Ah. Masih cantikan dirimu. Aku tak suka dijodoh-jodohkan. Aku tak suka dicariin sama orang lain tentang jodoh. Aku tak suka!!!" Aku pun berdiri mau pergi ke kamar. Namun, kau menahan tanganku. 


"Mau ke mana, sih? Duduk lagi, sini!"


Aku pun mengindahkan permintaan dirimu, Aini. 


"Aku tak ingin egois, A. Sebab, karena itulah aku mencarikan calon. Aku juga mau minta maaf! Aa, terlihat kacau ini karena aku. Semangat dong, A. Jangan sedih terus!" 


"Entahlah." 


"Jadi, gimana mau dicoba pendekatan dulu atau tidak?" 


Aku menggelengkan kepala tanda tidak. Hatiku masih kacau dan tak mungkin akan diisi kalau kekacauan itu belum hilang. Biarlah hatiku menyendiri dulu sampai menemukan temannya dengan cara sendiri. Aku menatap kembali kau, Aini. Aku menatap kau yang berjalan masuk ke dalam lukisan di ruang tamuku. Sebelum kau benar-benar masuk, aku melihat lambaian tanganmu yang mungkin akan jadi lambaian terakhir untuk diriku.[]


04/05/21 

4.42 WIB


Komentar

Tulisan Favorit Pembaca

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Salar de Uyuni, Cermin Raksasa yang Ada di Bolivia

Di Balik Jendela Kaca

SEMBUH ITU KEINGINAN