Postingan Terbaru

Di Persimpangan Hati

Gambar
Ilustrasi | Pexels.com/Erik Mclean di persimpangan hati  aku menguatkan semua keyakinan  yang terus bermunculan ingin keluar  dan pergi dari balik kebimbangan  kini, aku harus bagaimana?  memilih pergi tuk kembali pada awal  atau mencari tantangan yang tak  pernah dilewati sebelumnya Tuhan, aku bingung!  kenapa harus seperti ini  jalan yang kau berikan di bilik-bilik  bimbang kehampaan dan air mata apakah pernah kuminta hal seperti ini?  dalam kebimbangan di pagi hari  aku malah seperti bocil yang menangis;  tak tahu apa-apa dalam segala bidang  dan melongo di segala arah yang terlihat  Tuhan, apakah aku harus menyerah dalam keadaan?  mungkin saja, pertanyaan itu terdengar retorika  bagi Kau yang mendengar dengan seksama  bagi Kau yang mendengarkan secara bijaksana  namun, aku malah merasakan getir  getir yang amat dalam, dalam perjalanan ini  Tuhan, berikan kekuatan dan kesabaran buat diri ini!  2024

SEMBUH ITU KEINGINAN


Ada rasa tidak percaya di saat ruang radiologi mengeluarkan pendapatnya. Aku sakit. Di saat itu, semua harapan musnah seketika. Semua yang ada di dekat, hilang seketika. Aku tak paham dengan hidup ini. Sekarang, hidup yang harus dimulai dari awal lagi. Memupuk, menyiram, merawat, agar mendapatkan keindahan. Sembuh pun menjadi keinginan yang harus diperjuangkan demi masa depan. 


Saban hari, otakku terlempar ke belakang. Mengumpulkan kepingan-kepingan yang tercecer di halaman jiwa. Kau tak bisa diharapkan demi cinta yang terus tergerus oleh waktu. Rasa peria pun muncul di lidah menggerogoti jiwa. Mungkin, kau tertawa di luaran sana mengetahui aku tergolek lemah tak berdaya.


Masih terbaring tak bisa melangkah. Bahkan, air yang ada di dalam perutku pun harus dikeluarkan di tempat. Siksaan yang diciptakan Tuhan begitu menyakitkan. Sampai, hati tertusuk menjalar ke dalam perasaan. Aku lemah, pikirku. Harus sampai kapan merasakan hal yang tidak diinginkan. Sembuh! Jalan terbaik untuk menyumpal mulut-mulut yang telah tidak optimis dengan perjuanganku. 


"Bu, apakah aku bisa sembuh?" tanyaku. 


"Insyaallah," jawab Ibu. 


Butiran-butiran berwarna kuning yang terbuat dari zat kimia menjadi temanku. Aku tak berdaya di kala temanku itu hilang satu hari saja. Hidup memang tergantung dari butiran kuning itu. Sampai-sampai, mata yang aku miliki merasakan bosan untuk melihatnya. Namun, bosan itu harus dibakar sampai menjadi abu dan dihamburkan ke tanah. Biar, menyatu kembali dengan tanah yang sudah rapuh ini.


Aku tidak paham dengan pikiranmu, pikirku. Di saat seperti ini, kau hilang. Aku sendirian menatap langit-langit kamar. Untung saja, langit-langit kamar tak sejauh dengan langit-langit di luaran sana, sehingga mata yang menempel di tengkorakku bisa menahan segala kesedihan. Aku tidak tahu di sana kau sedang apa. Apakah kau masih mengingatku? Aku tidak tahu. 


Mencoba bangkit, mengayunkan kaki dengan sangat pelan. Satu ayunan kaki dibarengi dengan satu tangan menempel ke tembok. Duh! Aku sangat tersiksa oleh ujian ini. Apakah dosaku terlalu banyak? Mungkin. Sampai tak mampu menciptakan kehidupan yang kulukis di kanvas kosong. Bahkan, untuk mencoretkan tinta kehidupan di kertas putih pun tak bisa. Sungguh.


Aku tak kuat amukan cacing-cacing yang ada di dalam jantung. Aku tak paham dengan mereka yang terus berdemo, hingga hati yang kumiliki pun harus menanggung resikonya, cemas. Mungkin, kau yang ada di luaran sana tak mengerti dengan arti cinta. Sampai, kau memainkannya dengan banyak alasan sandiwara. Kau jahat! Untung saja, malaikat maut belum ada jadwal untuk membawaku pulang. 


"Ini makan dulu, A!" Suara Ibu menerobos telingaku. Aku menoleh ke arahnya, sambil duduk menyandarkan punggung ke bantal yang menempel tembok. 


"Itu tempe dan tahu rebus, ya?" tanyaku. 


Ibu mengangguk dengan mata yang sayu. Mungkin, beliau tidak tega melihat buah hatinya menjadi kering. Tangannya pun mengusap wajahnya yang telah menjadi sungai. Aku tak kuat melihat ini semua. Bangkit, hatiku bergejolak setiap harinya. Harapan selalu muncul untuk bisa merengkuh kembali apa yang diinginkan. Semua mantra-mantra terbaik kupanjatkan kepada pemilik tubuh ini. Aku terpaku, sedih, sampai tak kuat menahan air yang ingin bobol dari mata.


"Hanya orang tua yang selalu setia memberikan semuanya, di saat orang lain pada menghilang."[]


2020



Komentar

Tulisan Favorit Pembaca

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Salar de Uyuni, Cermin Raksasa yang Ada di Bolivia

Lelaki yang Patah Hati

Di Balik Jendela Kaca